Pembelajaran Daring di Rumah, Efektifkah?

Pembelajaran Daring di Rumah, Efektifkah?

Sumber:
https://images.pexels.com/photos/4145243/pexels-photo-4145243.jpeg?cs=srgb&dl=wanita-meja-tulis-internet-duduk-4145243.jpg

Asal muasal sekolah dari rumah

Pembelajaran daring (dalam jaringan) saat ini tengah tren di dunia pendidikan. Hal ini -tak lain dan tak bukan- dilatarbelakangi oleh alasan telah berbulan-bulan lamanya kita menghadapi situasi genting dan penuh krisis, yaitu pandemi covid-19. Seluruh aktivitas dan rutinitas yang semula dilakukan di luar rumah atau tempat umum, diminta untuk dilakukan di area rumah dan tak boleh membuat perkumpulan atau kerumunan, termasuk sekolah.

Di pertengahan semester genap 2020 kemarin, para siswa dan tenaga kependidikan harus rela meninggalkan kegiatan pembelajaran konvensional di kelas. Bahkan, mereka tak punya waktu untuk saling mengucapkan selamat tinggal satu sama lain karena akan ‘berlibur’ panjang. Sebagai kompensasi atas hal tersebut, mau tidak mau pembelajaran dialihkan secara daring (dalam jaringan) yang dilakukan dari rumah. Padahal kesiapan untuk melaksanakannya masih dipertanyakan. Lalu bagaimana sebenarnya perjalanan dari pembelajaran daring selama pandemi ini? Efektifkah ia? Jika tidak adakah solusi pemecahannya? Semua akan dibahas dalam tulisan berikut

Pembelajaran daring dilihat dari kacamata siswa

Pembelajaran di sekolah yang semula dilakukan di kelas dengan tatap muka akhirnya mengalami perkembangan zaman atau dalam hal ini dialihkan secara virtual tanpa bertatap muka maupun berkontak fisik langsung antara guru dengan siswa. Bagaimana rasanya? Hanya mereka yang dapat menjawabnya.

Salah seorang siswi SMP ketika ditanya bagaimana rasanya pembelajaran daring mengungkapkan keluh kesahnya bahwa pembelajaran itu lebih tidak enak dibanding pembelajaran luring, karena ada banyak tugas yang datang namun materi belum sepenuhnya matang diolah di otak mereka. Tidak jauh berbeda dengan opini tersebut, sekelompok siswa usia SD juga mengatakan bahwa pembelajaran online cenderung terlalu banyak tugas dengan waktu pengerjaan yang terbatas, walhasil mereka tidak mau mengerjakannya dan orang tua lah yang turun tangan. Ada lagi pendapat lain dari beberapa siswa yang seusia yang kurang lebih berintikan bahwa pembelajaran daring bersifat lebih santai, ringkas, dan praktis. Meski begitu mereka lebih menyukai belajar di kelas karena dapat bertemu dengan teman-teman serta guru dan merasakan atmosfer belajar yang sesungguhnya; mereka dapat bertatap muka langsung satu sama lain dan apabila ada hal-hal yang tidak siswa pahami dapat langsung bertanya dan memperoleh penjelasan yang mencerahkan.

Efek lain yang dirasa oleh siswa ini adalah mereka menjadi lebih tidak terbebani, dalam artian pembelajaran daring tidak mengharuskan mereka untuk memahami materi dan tugas secara real time. Pada permisalannya, jika datang tugas (ulangan harian) pagi ini, maka para siswa dapat mengerjakannya di malam atau keesokan harinya atau juga ketika guru mengunggah video pembelajaran di youtube, maka siswa dapat melihat atau mengunduhnya di kemudian waktu tanpa perlu merasa terburu-buru.

Pembelajaran daring menurut perspektif guru

Di sisi lain, para guru di wilayah (eks-karesidenan) yang sama mengatakan bahwa pembelajaran daring memang lebih fleksibel, namun sejauh ini dampak yang dibawanya tidak lebih baik dari luring (luar jaringan). Mereka kesulitan dalam menjelaskan materi pada para siswanya yang notabene masih memerlukan tahap pembelajaran konkrit.

Hal lain yang mengganggu guru adalah ketika tiba jadwal pengumpulan tugas, banyak siswa yang menjadi sangat lambat, bahkan terlambat dalam mengumpulkannya. Padahal pada pembelajaran biasa hal ini sangat jarang terjadi. Nampaknya para guru harus lebih bersabar karena tidak hanya menyelesaikan tugas administratif sekolah yang bertumpuk dan butuh untuk cepat selesai, namun juga karena menghadapi para siswa yang lebih sulit dikontrol atau dimonitor lewat media komunikasi elektronik yang terbatas. Sering kali materi dan pesan-pesan menjadi tidak tersampaikan dengan baik sehingga berpengaruh pada nilai tugas evaluatif yang diberikan.

Tentunya tidak semua guru menerapkan metode pembelajaran daring yang sama, karena mereka juga menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerahnya untuk pembelajaran daring. Di daerah pinggiran yang jauh dari kelancaran sinyal internet, para guru lebih memilih melakukan pengajaran paling tidak seminggu sekali di dusun-dusun yang dihuni oleh para siswa. Mereka mengumpulkan siswanya di salah satu rumah kemudian menjelaskan beberapa materi sekaligus dan tidak lupa memberi tugas sebagai tindak lanjut dari pembelajaran. Sementara di lain tempat ada guru yang memanfaatkan saluran radio sebagai media penyampaian materi. Situasi darurat yang terjadi kemarin membawa perubahan signifikan terhadap sistem pembelajaran bahkan pendidikan di Indonesia.

Pro kontra pembelajaran daring

Setelah beberapa waktu lamanya belajar di rumah saja sampai tak terasa tahun ajaran baru 2019/2020 telah usai namun tidak dengan pandemi, akhirnya pemerintah membuat keputusan untuk mempertahankan pembelajaran daring, setidaknya hingga satu semester ke depan. Namun beberapa waktu yang lalu pernyataan menteri pendidikan, Nadiem Makariem, mengindikasikan bahwa pembelajaran daring yang memanfaatkan teknologi harus tetap dipertahankan dan dikembangkan –walaupun pandemi telah usai- demi kemajuan di dunia pendidikan. Ini merupakan sebuah harapan yang positif dan mulia karena pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi memiliki segudang manfaat yang mampu membuat kita memahaminya (teknologi) dengan lebih baik sehingga dapat mengantarkan kita menjadi manusia yang semakin berperadaban. Kemudian di kesempatan yang lain, Nadiem melengkapi pernyataannya bahwa pembelajaran dengan tatap muka juga sangat penting dan utama, namun pada kondisi seperti ini pembelajaran luring di sekolah harus dilaksanakan dengan sangat hati-hati, oleh karena itu tidak semua sekolah diperbolehkan untuk menggelar kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sehingga opsi lain yang tersedia -mau tidak mau- adalah pembelajaran daring. Tentu tidak mudah untuk memulai dan membiasakan diri dengan sistem pembelajaran daring karena pada pembelajaran luring saja masih dijumpai beragam persoalan dan tantangan.

Selain itu, terdapat kenyataan bahwa tidak seluruh esensi pendidikan dan pembelajaran di sekolah dapat tersampaikan sebagaimana mestinya apabila diajarkan secara daring, misalnya pada materi yang sifatnya praktik dan aplikatif. Pembelajaran di sekolah sebenarnya juga membuka jalan bagi siswa untuk mengenal lingkungan yang dapat membantunya bersosialisasi, beradaptasi serta belajar tentang norma-norma dan nilai-nilai humanisme dan bahkan spiritualisme dengan cukup baik.

Kesimpulan

Jadi, apakah pembelajaran daring efektif? Jawabannya iya dan tidak. Karena banyak sekali pertimbangan dan tolok ukur untuk mengatakannya efektif. Barangkali dari segi materi, waktu, dan penugasan pembelajaran daring lebih efektif dan efisien dibanding luring. Namun berbeda apabila dilihat dari proses dan dampak jangka pendek yang terjadi sejauh ini. Masih dijumpai beberapa persoalan pokok dan fundamental yang perlu untuk segera dicari jalan penyelesaiannya. Namun melihat efek positif pembelajaran secara daring serta optimisme untuk menemukan dan mengembangkan metode belajar daring yang lebih baik ke depannya, maka patut disyukuri dan diapresiasi keberadaan pembelajaran daring ini sebagai bagian dari inovasi pendidikan. Usaha serta doa terbaik harus terus dilancarkan agar pendidikan Indonesia mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik dan berkualitas. Dan perlu diingat bahwa dalam setiap penetapan langkah pembelajaran oleh orang tua, guru, sampai pemerintah tidak boleh melupakan atau mengabaikan potensi, kemampuan, kebutuhan dan keragaman siswa yang terepresentasi dalam karakteristik mereka. Hal ini sejalan dengan pemikiran W.S. Winkel dalam Psikologi Pengajaran (2014) bahwa keberhasilan proses mengajar-belajar itu, untuk sebagian, dipengaruhi oleh ciri-ciri khas yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.

No Comments

Post A Comment