9 Tips Agar Belajar di Rumah Tetap Menyenangkan Bagi Anak

9 Tips Agar Belajar di Rumah Tetap Menyenangkan Bagi Anak

Sumber:
https://images.pexels.com/photos/4260315/pexels-photo-4260315.jpeg?cs=srgb&dl=orang-orang-wanita-meja-tulis-laptop-4260315.jpg

Belajar di rumah maupun di lembaga pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan manusia sepanjang hayatnya. Tidak ada batasan usia, kondisi, status, maupun tempat bagi mereka yang ingin mendapatkan ilmu untuk mengenal dan menghadapi dunia dengan lebih baik. Dan ada banyak sumber yang dapat kita manfaatkan untuk belajar, entah dari internet, dari pelajaran sekolah, maupum dari peristiwa atau kejadian yang terjadi pada diri kita dan dunia, seperti sekarang ini. Pandemi Covid-19 membuat seluruh tatanan aspek dalam kehidupan berubah. Tak terkecuali pendidikan (sekolah). Adanya instruksi untuk lebih banyak belajar di rumah dari pada di sekolah dan kebijakan pembelajaran daring ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada banyak problematika yang dihadapi, misalnya fakta bahwa tidak semua daerah memiliki daya dukung yang memadai terhadap jaringan internet. Juga problem seperti beberapa materi pembelajaran mungkin tidak dapat tersampaikan dengan tepat. Oleh karenanya, belajar di rumah bagi anak-anak merupakan sebuah hal penting yang harus diperhatikan oleh orang tua, karena saat ini guru tidak lagi lagi leluasa mengajar dan mendidik seperti sebelumnya. Maka dari itu, tugas dan peran orang tua lah untuk meng-cover proses belajar anak di rumah sehingga tidak ‘ketinggalan’ pelajaran atau pendidikan sebagaimana di sekolah. Berikut beberapa cara atau strategi yang dapat diterapkan orang tua agar anak tetap memperoleh waktu belajar yang mengasyikkan di rumah.

1. Menyediakan waktu khusus untuk belajar di rumah yang cukup namun rutin

Salah satu kunci penting kesuksesan dalam belajar adalah konsisten. Menyediakan waktu khusus untuk belajar bagi anak setiap harinya dapat membantu memudahkan anak dalam menyerap materi karena jam belajar yang rutin dan teroganisir. Jam belajar tidak harus lama, sebagaimana di sekolah. Namun yang penting cukup bagi anak untuk menerima dan memahami materi dengan baik. Misalnya dalam sehari disedikan waktu untuk belajar sebanyak 4 hingga 6 jam. Itu pun baiknya diselingi dengan istirahat dan ice breaking untuk menjaga konsentrasi anak. Jangan biarkan anak kelelahan karena belajar yang berlebihan.

2. Mengenali karakteristik belajar anak ketika di rumah

Setiap anak adalah individu yang unik. Ia memiliki ciri atau corak khas tersendiri yang berbeda dari anak-anak lain dan tidak semua anak sama cepatnya dalam memahami pelajaran. Juga tidak semua anak penurut atau aktif. Untuk itu, kenali dan pahami terlebih dahulu karakter, termasuk gaya belajarnya (apakah visual, auditori, kinestenik, maupun kombinasi) agar belajar anak menjadi optimal. Ini juga dapat membantu orang tua dalam mengidentifikasi gangguan atau kesulitan belajar pada anak sehingga dapat segera dicari strategi dan alternatif penyelesaian yang tepat untuk menunjang kemajuan belajar anak.

3. Belajar di rumah tidak harus berorientasi pada hasil atau nilai namun yang terpenting proses dan pemahaman

Belajar bukan tentang hasil akan tetapi tentang proses. Selain itu, penting bagi kita untuk mengerti bahwa tidak seluruh hasil belajar dapat serta merta secara langsung nampak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan butuh perjalanan waktu yang tidak sebentar supaya terwujud atau teraplikasikan dengan baik. Otak manusia apalagi anak membutuhkan waktu yang bertahap untuk memproses atau memahami materi. Menjadikan nilai sebagai tujuan utama dari belajar merupakan kesalahan fatal yang mendistorsi konsep belajar pada anak.

4. Tidak memperbandingkan hasil belajar satu anak dengan anak lain

Ketika periode evaluasi hendaknya orang tua tidak menyudutkan anak dengan membanding nilai yang diperolehnya di antara teman-temannya. Kembali kepada urgensi dan tujuan dari evaluasi yakni untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana pemahaman anak terhadap materi yang selama ini ia pelajari sehingga dapat menentukan treatment belajar yang tepat selanjutnya bagi anak. Dengan membandingkan hasil belajar satu anak dengan anak lain sehingga membuat anak menjadi insecure atau berkecil hati adalah sebuah tindakan yang tidak bijak. Maka dari itu pahami kembali poin nomor dua, bahwa setiap anak itu unik. Banyak cara positif yang dapat ditempuh untuk menyemangati anak agar lebih bagus ke depannya, salah satunya dengan reward.

5. Tidak mengucapkan kata-kata yang menghambat perkembangan belajar anak

Sedikit mirip dengan poin empat, bahwa tidak membuat anak tertekan, sedih, marah, bahkan meremehkannya ketika sedang dalam proses belajar adalah hal bijak yang dilakukan oleh orang tua. Karena tidak semua kata-kata dan perlakuan keras atau buruk menstimulasi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kuat, justru kemungkinan besar malah akan menghambat perkembangan anak. Kita tidak tahu apa yang anak pelajari dari kata-kata dan perilaku kurang baik yang ia terima atau lihat. Oleh karena itu, tetap berhati-hati dan waspada supaya anak tidak memperoleh dampak buruk dari pola asuh orang tua.

6. Mengombinasikan pembelajaran dengan permainan

Belajar tidak melulu soal menjelaskan teori lalu menyuruh anak untuk menghafal dan mengerjakan soal. Orang tua juga dapat mengajarkan anak dengan metode permainan atau games membuat anak dapat menyerap materi dengan lebih baik. Misalnya mengajar dengan metode jembatan keledai, nyanyian, tepukan dan lain-lain.

7. Mengajak anak mengenal dan belajar tentang lingkungan luar di sekitar rumah

Negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark) mempunyai indeks kebahagiaan anak yang tinggi setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan mereka menerapkan pola asuh atau parenting yang unik dan tidak terlalu mengekang anak. Para orang tua membiasakan anak-anak mereka untuk Friluftsliv (hidup di alam terbuka). Artinya gaya hidup untuk sering-sering berinteraksi dan mencintai alam (Instagram post by sahabat.parenting, 20/07/07). Di situasi dan kondisi seperti saat ini tidak apa untuk membiarkan anak bermain dan berolahraga di luar asalkan tetap dalam pengawasan dan tidak berkerumun atau membuat kontak fisik yang meningkatkan resiko terkena penyakit pandemi.

8. Belajar di rumah tidak harus selalu terkait dengan materi di sekolah

Alangkah baiknya materi yang diberikan kepada anak tidak hanya seputar pelajaran sekolah namun juga dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari yang sederhana dan sesuai dengan tumbuh kembang anak. Selain itu, anak juga dapat diajarkan tentang materi yang menarik minat serta berguna untuk perkembangan bakat serta potensinya. Hal ini bertujuan supaya anak dapat melihat atau bahkan merasakan urgensi dari materi yang telah dipelajarinya secara lebih konkret. Tidak lupa juga untuk memperhatikan sumber belajar anak. Pada zaman sekarang erat sekali kaitan antara pendidikan dengan teknologi internet, sehingga orang tua juga harus pintar-pintar memilih dan mengatur sumber belajar anak, misalnya pada media sosial dan online games. Dikutip dari id.theasianparent.com (Febri, 20/07/07), game online dapat menjadi tempat yang sehat bagi anak-anak untuk bermain di dunia virtual ketika mereka tidak bisa bermain bersama di dunia nyata.

9. Membangun kerjasama yang solid dengan guru maupun orang yang memiliki kewenangan terkait belajar anak di rumah

Berdiskusi secara rutin tentang perkembangan anak dengan orang tua lain, guru, atau juga ahli pendidikan anak dapat membuat orang tua memiliki pandangan yang lebih luas tentang dunia anak dan membantu mereka memahami serta memperlakukan anak dengan cara yang tepat. Karena apabila orang tua menghadapi kesulitan dalam proses mendidik anak, maka diskusi dapat menjadi jalan yang membantunya menemukan penyelesaian.

No Comments

Post A Comment