3 Cara Menjaga Nutrisi pada Anak Agar Terhindar dari Alergi

3 Cara Menjaga Nutrisi pada Anak Agar Terhindar dari Alergi

Sumber:
https://images.pexels.com/photos/4546108/pexels-photo-4546108.jpeg?cs=srgb&dl=makanan-sehat-imut-istirahat-4546108.jpg

Menjaga kebutuhan nutrisi pada anak merupakan salah satu prioritas bagi orang tua agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara jasmani dan juga rohani sehingga ia mampu menyelesaikan tugas-tugas pada tahap perkembangan usianya. Apabila anak-anak mendapatkan gizi atau ternutrisi dengan baik maka besar kemungkinan mereka akan mampu menjadi generasi penerus bangsa dan pewaris berbagai peradaban dan kebudayaan yang sukses serta membawa manfaat bagi diri dan lingkungan. Oleh karenanya, pemahaman tentang nutrisi pada anak penting untuk dimiliki orang dewasa, khususnya orang tua.

Menurut Mary E. Back (2000), nutrisi adalah keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk menerima bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut agar menghasilkan berbagai aktivitas dalam tubuhnya sendiri. Bahan-bahan tersebut dikenal dengan istilah nutrient. Sedangkan menurut Yupi Supartini (2004), nutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Setiap anak mempunyai kebutuhan nutrien yang berbeda-beda dan anak mempunyai karakteristik yang khas dalam mengkonsumsi makanan atau zat gizi tersebut. Oleh karena itu, untuk menentukan makanan yang tepat pada anak, tentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien, kemudian tentukan jenis bahan makanan yang dapat dipilih untuk diolah sesuai dengan menu yang diinginkan, tentukan juga jadwal pemberian makanan dan perhatikan porsi yang dihabiskannya.

Melihat sedikit definisi di atas, selanjutnya muncul pertanyaan yang substansial seperti, sudahkah selama ini kita sebagai orang tua maupun orang dewasa benar-benar memperhatikan ketercukupan nutrisi pada anak? Bagaimana cara menjaga nutrisi pada anak tanpa khawatir akan melakukan kesalahan yang justru membahayakan kesehatan mereka, misalnya alergi, yang notabene lebih sering terjadi pada anak-anak ketimbang orang dewasa. Selain itu, Dr. dr Zakiudin M (2016: 4) menyampaikan bahwa angka kejadian alergi (di Indonesia) meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat.

Untuk menanggapi persoalan tersebut, berikut ini terdapat 3 cara aplikatif yang berguna sebagai panduan dalam menjaga nutrisi pada anak-anak dengan memperhatikan hal-hal yang umumnya dapat memicu alergi pada mereka.

1. Mengenali kebutuhan nutrisi pada anak dan melakukan penanganan dini terhadap alergi

Jenis-jenis nutrien yang dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak antara lain: air atau ASI, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Untuk kadar nutrien yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tahap perkembangan usianya (baca: https://www.academia.edu/16645124/nutrisi_anak).
Di samping itu, perhatikan pula resiko terjadinya alergi makanan pada anak. Dilansir dari beritasatu.com (24/07/20), Konsultan Alergi Imunologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Prof Budi Setiabudiawan, mengatakan, sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sejak dini perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembang tidak terhambat.

“Khusus anak-anak dengan risiko alergi karena riwayat orang tua, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh kembangnya optimal,” kata Budi.

Pengawasan tersebut, lanjut dia, termasuk memantau dan mengenali gejala klinis alergi, mengenali alergen (pemicu alergi), memantau asupan nutrisi dan menggantikan nutrisinya dengan yang lebih mudah dicerna dan toleran (baca: https://www.google.com/amp/s/amp.beritasatu.com/kesehatan/356619-nutrisi-tepat-cegah-risiko-alergi-pada-anak).

Perlu diketahui pula bahwa anak-anak yang terlahir dari orang tua yang mempunyai alergi, beresiko terkena alergi lebih besar dibanding anak-anak dari orang tua tanpa alergi, meskipun jenis alergi yang diturunkan tidak selalu sama. Serta reaksi alergi tidak terjadi secara tiba-tiba. Reaksi ini memerlukan waktu yang disebut proses sensitisasi, yaitu masa sejak kontak dengan alergen sampai terjadinya reaksi alergi. Masa sensitisasi dapat berlangsung dalam waktu singkat atau dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian tergantung intensitas kontak dengan alergen atau kepekaan seseorang terhadap alergen tersebut (Zakiudin M, 2016: 11-13).

2. Substitusi asupan nutrisi alergen dengan nutrisi yang sama baiknya namun lebih toleran bagi anak

Beberapa golongan makanan yang dapat menimbulkan alergi pada anak berdasarkan kekerapannya antara lain, yaitu protein susu sapi, telur ayam, kacang-kacangan, ikan, kedelai, dan gandum (Zakiudin M, 2016: 36-40). Bahkan beberapa anak ada yang alergi terhadap buah atau sayuran mentah sehingga timbul bengkak di kelopak mata (allergic shiner).

Untuk mengatasi itu, orang tua dapat menukar asupan protein yang didapat dari telur dan susu sapi dengan asupan protein dari daging, susu soya, maupun mentega. Sedangkan untuk gandum atau tepung terigu dapat disubstitusi dengan tepung-tepungan dari bahan lain misalnya jagung, beras, dan sagu. Lalu untuk kacang-kacangan dapat diganti dengan biji-bijian yang ternyata kaya akan manfaat, seperti biji labu, biji semangka, atau biji bunga matahari. Dan tidak lupa alangkah baiknya untuk mengonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar kebutuhan gizi si kecil benar-benar tepat.

3. Memperhatikan pemenuhan asupan vitamin D pada anak

Penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D umum terjadi pada anak yang memiliki resiko alergi. Seperti yang diberitakan oleh ugm.ac.id pada 25/10/18, dr. Sri Wahyu Herlinawati, Sp.A., M.Kes. menyebutkan sejumlah penelitian menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kasus alergi di dunia.

Hal tersebut dihubungkan dengan rendahnya kadar vitamin D akibat dari banyaknya orang yang lebih banyak tinggal di dalam ruangan sehingga kurang mendapatkan pajanan sinar matahari dan rendahnya produksi vitamin D di kulit. Kurangnya pajanan sinar matahari merupakan penyebab utama defisiensi vitamin D. Sebab, sekitar 80 persen vitamin D dalam tubuh manusia berasal dari previtamin D yang diproduksi di kulit yang diinduksi oleh sinar UV B.

Meski dinyatakan demikian, ternyata peningkatan pajanan sinar matahari pada tubuh tidak lantas membuat total kadar IL4 dan IgE (antibodi yang banyak berperan pada reaksi alergi) bekerja secara lebih signifikan pada anak dengan atopi atau resiko alergi (baca: https://www.ugm.ac.id/id/berita/17289-anak-penderita-alergi-cenderung-alami-defisiensi-vitamin-d). Akan tetapi, setidaknya dengan mendapatkan vitamin D yang cukup membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih kuat, sehingga apabila anak terserang alergi maupun malnutrisi, maka tubuh dapat mengatasinya dengan lebih kuat dan bahkan dapat pulih lebih cepat.

No Comments

Post A Comment