Mengatasi Masalah Nutrisi pada Anak

Mengatasi Masalah Nutrisi pada Anak

Masalah nutrisi pada anak di Indonesia masih kurang yang mengakibatkan demam tefoid bersifat endemik dan dari telaah kasus di beberapa rumah sakit menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dari laporan jurnal Sari Pediatri volume 7, nomor 1, Juni 2005, halaman 9-14 mengungkapkan terdapat 500/100.000 penduduk rata-rata kesakitan dan 0,6%-5,0% kematian.

Pahami Gejala Tipes pada Anak dan Cara Menanganinya - Alodokter

Terdapat beberapa intervensi yang dapat disusun untuk mengatasi masalah nutrisi pada anak dengan demam tifoid yaitu sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik, anjurkan makan porsi kecil dan sering, hindari makanan buah-buahan dan hindari diit tinggi serat, timbang berat badan secara teratur, beri umpan balik positif pada anak yang menunjukkan peningkatkan nafsu makan, beri penjelasan kepada anak dan orang tua tentang pentingnya nutrisi bagi penyembuhan penyakit, beri pendidikan kepada orang tua mengenai sakit anaknya agar menerapkan diit yang tepat, kolaborasi dalam pemberian diit dan cairan parenteral.

Tindakan yang dilakukan antara lain :

  1. Menganjurkan makan sedikit tapi sering, meningkatkan intake cairan dan nutrisi, serta menimbang BB secara teratur
  2. Anjurkan Untuk Bedrest dan Membatasi Aktifitas
  3. Health Education
  4. Pemberian Farmakoterapi

PENJELASANNYA :

  1. Menganjurkan makan sedikit tapi sering, meningkatkan intake cairan dan nutrisi, serta menimbang BB secara teratur
Ketahui Kenaikan Berat Badan Ideal Pada Bayi - 1Health.ID

Pada saat sebelum dilakukan tindakan, klien mengatakan merasa mual dan makan hanya habis 4-5 sendok, terdapat tanda-tanda klinis seperti turgor kulit menurun, mukosa kering, dan bibir pecah-pecah, bising usus 13x/menit, serta BB sekarang 46 kg. Setelah dilakukan tindakan menganjurkan makan sedikit tapi sering rasa mual yang dirasakan anak berangsur-angsur berkurang, menganjurkan meningkatkan intake cairan dan nutrisi anak mampu menghabiskan porsi makan yang disediakan RS dan tidak ada tanda-tanda klinis dehidrasi dan kekurangan nutrisi, menimbang BB secara teratur diketahui tercapai tidaknya penatalaksanaan nutrisi klien. Pada hari kedua sampai keempat, klien dan orang tua masih kooperatif dan bersedia untuk melaksanakan tindakan yang sudah dianjurkan perawat dan asupan makan klien berangsur-angsur meningkat. Seperti yang dijelaskan oleh Hidayat (2008) bahwa pemberian memberikan makan sedikit tapi sering agar jumlah asupan terpenuhi, pemberian nutrisi dalam bentuk lunak untuk membantu nafsu makan, memonitor berat badan, adanya bising usus dan status gizi, pemberian ekstrak susu dan diit MLTKTP merupakan beberapa tindakan untuk penatalaksanaan ketidakseimbangan nutrisi dengan meningkatkan asupan makan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi klien yang kurang.

Mual, muntah, dan penurunan nafsu makan karena terjadi peradangan pada usus halus dan juga dapat menyebabkan malabsorbsi sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dan terjadi penurunan berat badan. Sehingga perlu dilakukan tindakan memberikan makan tapi sering dimana tindakan tersebut efektif pada saat masa akut hingga mencapai batas toleransi klien untuk mengkonsumsi makanan seperti biasa. Menimbang BB secara teratur, tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan asupan makan klien namun akan memberi catatan penurunan atau kenaikan BB yang dapat digunakan untuk acuan tercapai atau tidaknya penatalaksanaan nutrisi yaitu dengan mempertahankan BB klien.

2. Anjurkan Untuk Bedrest dan Membatasi Aktifitas

Cara Membuat Akun dan Membatasi Aktivitas Anak di Komputer Windows 10

Pada saat sebelum dilakukan tindakan yaitu klien merasakan demam, kepala pusing dan nyeri pada perut serta klien terlihat lemas dan lesu. Kien mengatakan demam, kepala pusing cenut-cenut dan kualitas nyeri hilang timbul. Setelah dilakukan tindakan pada hari pertama, klien masih merasa lemas, lesu, demam, sakit kepala, dan nyeri perut. Pada hari kedua sampai keempat klien masih patuhterhadap anjuran perawat untuk bedrest, dan klien mengatakan demam berangsur-angsur turun dan tidak lagi merasa pusing atau nyeri perut serta tidak merasa lemas dan lesu. Hal ini didukung dengan pernyataan Riyadi (2010) bahwa pada anak dengan demam tifoid tirah baring atau bedrest dan pembatasan aktifitas perlu dilakukan selama demam karena dapat mencegah komplikasi seperti perdarahan usus dan perforasi usus. Tindakan dengan menganjurkan klien untuk bedrest dan membatasi aktifitas tetap diperlukan untuk mengurangi dampak buruk yang dapat disebabkan apabila klien beraktifitas secara mandiri. Selain itu, tindakan tersebut bertujuan mengurangi kebutuhan metabolisme tubuh yang meningkat akibat proses infeksi dimana kebutuhan juga akan bertambah apabila klien banyak melakukan aktifitas. Karena itu, tindakan bedrest dan pembatasan aktifitas perlu dilakukan sehingga tidak muncul kemungkinan terjadinya komplikasi yang dapat memperparah penyakitnya. Diperlukan juga kepatuhan klien untuk tercapainya tujuan dari tindakan bedrest.

3. Health Education

Dental Health Education (DHE) | Kelompok AT199 KKN Unsyiah Juli ...

Sebelum diberikan Health Education, orang tua klien cemas dan menanyakan kondisi anaknya. Orang tua kurang mengetahui tentang kondisi anaknya dan hal apa yang harus dilakukan saat klien mual dan muntah dan keluhan lainnya seperti nyeri perut, pusing, dan panas tinggi. Setelah dilakukan tindakan, orang tua tidak cemas lagi, mengatakan paham tentang kondisi anaknya, serta siap dan bersedia terlibat dalam program terapeutik klien. Pemberian Health Education atau bimbingan antisipasi pada klien tidak mengurangi keluhan yang dirasakan klien, karena keluhan masih terasa meskipun sudah berangsur-angsur berkurang. Namun informasi tersebut dapat membuat klien dan orang tua menjadi lebih tenang dan tidak merasa cemas setelah mengetahui tentang hubungan demam tifoid dan pengaruhnya terhadap asupan nutrisi serta tindakan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan asupan nutrisi.

Health Education perlu diberikan pada orang tua dan klien yang belum pernah mengalami sakit demam tifoid sebelumnya karena belum dapat mengidentifikasi mual, muntah ataupun penyebabnya, tindakan yang dapat dilakukan untuk mencukupi asupan nutrisi klien, serta hal yang dapat mempercepat atau memperburuk penyembuhan. Pemahaman klien dan orang tua yang baik mengenai kondisinya akan mengurangi tingkat kecemasan dan menghasilkan kepatuhan diit. Health Education juga perlu diberikan pada klien yang sudah pernah mengalami demam tifoid, dan memberikan anjuran untuk menghindari kambuhnya penyakit.

4. Pemberian Farmakoterapi

Farmakologi | AKADEMI KEPERAWATAN YPTK SOLOK

Wijaya, Andra dan Yessie (2013) menyebutkan bahwa farmakoterapi yang tepat untuk demam tifoid yaitu kloramfenikol. Terapi yang didapatkan klien pada hari pertama yaitu paracetamol, cefotaxim dan ranitidine, kemudian terapi antibiotik pada hari kedua sampai keempat diganti kloramfenikol. Setelah pemberian terapi farmakologis, klien menunjukkan penurunan demam, rasa mual, dan rasa sakit pada perut yang signifikan baik. Penurunan tersebut juga sama drastisnya pada hari kedua sampai keempat.

Referensi :

Journal of Pharmaceutical Science and Medical Reseaarch (PHARMED), 1 (2), 2018, 5-9
http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/pharmed ISSN 2614-4840 (print) ISSN 2614-6118 (online)

jurnal Sari Pediatri volume 7, nomor 1, Juni 2005, halaman 9-14

No Comments

Post A Comment