Kebudayaan Masker Yang Tak Hanya Berguna Cegah Covid

Kebudayaan Masker Yang Tak Hanya Berguna Cegah Covid

“Jika, jika, dan jika pandemi covid tidak terjadi pencapaian-pencapaian pribadi pastilah tidak tertunda” terbayang dalam setiap benak orang-orang. Sekolah masih belum menggelar pelajaran di dalam bangunan ruang kelas. Klaim zona hijau sewaktu-waktu bisa berubah menjadi merah atau bahkan hitam. Dan sangsi yang terus menghantui pelanggar protokol kesehatan karena tak menggunakan masker.

Pandemi covid-19 dipastikan belum berakhir mengisyaratkan bahwa protokol kesehatan pencegahan tertularnya virus masih berlaku ketat. Memakai masker saat beraktivitas di luar hanyalah satu dari sekian protokol kesehatan. Pun dengan memperbanyak aktivitas cuci tangan dan berjabat tangan yang masih menjadi larangan untuk dilakukan.

Kini diberbagai tempat nyaris semua orang menutupi setengah wajahnya menggunakan masker. Di jalanan, di pasar, atau di warung, organ hidung, pipi, mulut dan dagu terbungkus kain rapat. Tidak ada keleluasaan untuk memandang wajah orang yang sedang duduk, berjalan, atau berlari di hadapan kita.

Masker dalam KBBI bermakna alat untuk menutup muka, kain penutup hidung dan mulut, topeng. Definisi itu mengisyaratkan bahwa masker tak hanya digunakan untuk pencegahan virus menular. Beberapa kebudayaan masyarkat menganggap bahwa mengenakan masker hukumnya wajib. Lalu untuk apa masker itu digunakan.

Masker sebagai Penutup Aurat

Masker atau penutup wajah acap kali digunakan untuk melakukan tindak kejahatan. News.detik.com 18/8 2011 pernah merilis sebuah berita bahwa Noordin M Top, acapkali memakai cadar dalam pelariannya. Namun aksi tersebut dilakukan hanya pada siang hari saja.

Di Indonesia beberapa tahun lalu pernah geger ikhwal pelarangan penggunaan cadar. Kala itu Indonesia ingin meniru aturan yang dibuat oleh Negara lain semisal Maroko, Belgia, Perancis, Belanda, Jerman, Austria, Bulgaria, China, Sri Lanka, dan Norwegia. Hal itu  semata-mata dilakukan untuk meminimalisir tindak terorisme yang marak terjadi kala itu.

Sempat bahasan laragan para mahasiswi mengenakan cadar di kampus muncul. Bukan hanya di dalam kampus yang ingin menerapkan aturan itu, tetapi sudah diseret untuk bahasan umum konsumsi publik karena tampil di ILC.

Cadar atau Niqab dalam istilah arab adalah sebuah kain penutup bagian wajah. Tepatnya untuk menutupi hidung, mulut, dan dagu seorang muslimah. Benda penutup setengah wajah itu biasa dikombinasikan dengan hijab yang menutup kepala, leher, dan menjulur hingga dada oleh kaum muslimah.

Radarpekalongan.co.id pernah merilis 9 manfaat cadar bagi kaum mulimah. Diantaranya mengurangi kejahatan dan kerusakan moral, menutup pintu perzinahaan dan perselingkuhan, serta agar wanita tidak kelihatan menggoda.

masker untuk Menutupi Identitas Diri

merdeka.com

Pada film-film bergenre action kita bahkan disuguhkan dengan masker yang lebih bervariatif untuk melakukan aksi pencurian, perampokan hingga pembunuhan. Mulai dari kain biasa yang dililitkan pada wajah seperti yang terjadi pada abad ke-16 di eropa hingga topeng gas yang moncer saat perang dunia 1 tahun 1970.

Masker untuk kenyamanan berkendara

Sudah menjadi sesuatu yang umum jika masker adalah teman setia bagi para pengendara motor. Di jalan yang penuh dengan polusi udara, masker sedikitnya memberikan kenyamanan untuk tetap fokus dalam bekendara. Benda itu meredam bau dari asap-asap yang keluar lewat knalpot-knalpot mobil, bus, atau trek.

Di atas bus masker juga menjadi hal yang wajar dikenakan. Begitu pula untuk pejalan kaki yang menggunakan trotoar sebagai jalurnya. Masker akhirnya menjadi wajib hukumnya untuk digunakan ketika berada di tempat-tempat berpolusi tinggi. Satu tempat yang tidak boleh terlewat adalah kenakan masker saat anda bekerja di ligkungan pabrik.

Representasi Seorang Tokoh

IndonesiaKaya.com

Pada sebuah tarian masker atau yang lebih dikenal dengan istilah topeng adalah representasi dari watak. Tari Topeng dari Cirebon misal, menggunakan simbol-simbol sarat makna dalam sebuah pementasan.

Dikutip dari Indonesiakaya.com, “Tari Topeng disampaikan melalui warna topeng, jumlah topeng, dan juga jumlah gamelan pengiringnya. Total jumlah topengnya ada sembilan, yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lima topeng pokok (panji, samba atau pamindo, rumyang, tumenggung atau patih, kelana atau rahwana) dan empat topeng lainnya lainnya (pentul, nyo atau sembelep, jingananom dan aki-aki) digunakan jika lakon yang dimainkan berjudul Jaka Blowo, Panji Blowo, atau Panji Gandrung.”

No Comments

Post A Comment